Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label humor Gus Dur

Hebatnya Bintang Sembilan

Pernah Gus Dur diundang menjadi pembicara tunggal dalam sarasehan yang diadakan oleh KNPI. Jadwalnya Jam 20.30, namun hingga Jam 20.50 dia belum muncul, panitiapun gelisah. "Saya takut Gus Dur kesasar," kata Ketua KNPI ( waktu itu ) Tjahjo Kumolo. "Saya kok punya firasat Gus Dur ketiduran," timpal Eros Djarot yang berdiri di samping Tjahjo. "Jangan lupa Gus Dur itu di seminar pun bisa tidur ". "Jangan-jangan Ia nyasar ke Graha Pemuda, kantornya Menpora ", Tukas Tjahjo . Tiba-tiba ada yang nyeletuk, "jangan-jangan kena cekal, nggak boleh ngomong". Di tengah kegelisahan itu, tepat pukul 21.00 tiba-tiba Gus Dur nongol. "Maaf, saya harus menerima pengarahan dulu dari Jenderal bintang tiga," katanya. Ia pun langsung diminta bicara. Di depan peserta sarasehan itu dia kembali cerita soal keterlambatannya yang katanya karena dipanggil Jenderal bintang tiga itu. "Baru bintang tiga saja sudah bisa nyetop orang," uca...

Gus Dur dan Sepatu Bush

Terjadilah insiden pelemparan sepatu oleh wartawan stasiun TV di Irak ke arah presiden Amerika Serikat George W. Bush. Dunia jadi geger. Semua media menyajikannya sebagai berita utama. Tokoh-tokoh dunia berkomentar. Mayoritas memberikan dukungan kepada sang wartawan. "Lemparan penghinaan itu adalah tanggapan balik terhadap invasi Amerika ke Irak." Dunia Arab kontan memberinya gelar pahlawan, meski belakangan wartawan ini babak belur. Para tokoh di Indonesia pun tidak ketinggalan. Ada yang menyesalkan sikap wartawan yang emosional, tidak beretika. Namun umumnya memberikan acungan jempol kepada wartawan. Tibalah saatnya dalam suatu forum politik para wartawan merangsek mendekati mantan presiden RI Gus Dur, meminta pendapatnya soal sepatu Bush. "Gus Dur bagaimama pendapat anda tentang insiden pelemparan sepatu? Apakah itu termasuk bentuk kejengkelan warga Irak?" "Apakah anda mendukung itu Gus?" "Gus, apakah Bush pantas mendapatkan itu...

Sekalinya Gus Dur Kalah

Konon Gus Dur sempat memimpin perusahaan penerbangan Abdurrahman Wahid Air atau AW Air. Waktu itu Gus Dur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantornya, melihat para pegawainya bekerja. Gus Dur sempat kaget melihat seorang yang duduk-duduk santai. Tidak bekerja. Padahal ini masih jam kerja. “Kamu tidak bekerja?” tanya Gus Dur “Maaf. Saya lagi istirahat Pak,” katanya. Gus Dur tidak menjawab lagi. Pikirnya, karyawan ini sudah tidak bisa diberi ampun. “Gajimu berapa sebulan?” Tanya Gus Dur. “Satu juta Pak,” katanya. “Ya sudah. Kamu saya kasih dua juta, dan kamu tidak usah lagi bekerja di sini.” Orang tadi bengong, tapi uang pemberian Gus Dur tadi diterima begitu saja, dan dia langsung pergi. Setelah itu, Gus Dur langsung memanggil salah seorang pimpinan direksi. “Hei. Orang tadi sudah saya kasih pesangon, tidak usah lagi bekerja di sini. Kita harus tertibkan manajemen perusahaan,” kata Gus Dur agak jengkel. “Wah. Dia bukan karyawan sini Pak. Dia pengantar barang,”...

Nyi Roro Kidul Pakai Jilbab

Gus Dur ditanya serius tentang penyebab terjadinya gempa dan tsunami di Yogyakarta. Nah karena Gus Dur bukan ahli geologi maka dia menjawab sekenanya saja. "Itu karena Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa pakai jilbab," kata Gus Dur. Ceritanya, Gus Dur sedang menyindir kelompok umat Islam di Indonesia yang memaksakan peraturan daerah (Perda) syariat Islam. (Anam) sumber:  http://www.nu.or.id/

Gus Gur Ingin Nikahi Perempuan Satu Bis?

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diprotes oleh seorang penceramah di televisi gara-gara ada rombongan ibu-ibu pengajian satu bis yang mencium tangan Gus Dur saat sowan atau bersilaturrahim ke kediamannya di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan. ”Itu ada ulama tapi koq bersalaman dengan perempuan, kan bukan muhrim,” kata penceramah itu. ”Mestinya dia memberikan pelajaran yang baik kepada ummat,” katanya agak kesal. Gus Dur tertawa saja mendengar itu. ”Memangnya perempuan satu bis mau saya nikahi semua, hehehe,” katanya. ”Masa bersalaman aja nggak boleh, lagian saya kan tidak lihat satu-satu orang yang datang,” kata Gus Dur. (anam) sumber:  http://www.nu.or.id/

Jenderal yang Paling Ditakuti Gus Dur

Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sangat pemberani. Gus Dur tidak pernah takut kepada siapa pun, termasuk kepada polisi. Bahkan kepada Jenderal-nya sekalipun. Hal ini pernah dibuktikan dengan permintaan Gus Dur agar Jenderal Surojo Bimantoro (Kapolri) mengundurkan diri. Namun rupanya, seberani apa pun seorang Gus Dur, tetap saja ada satu Jenderal yang ditakutinya. Ketakutan pada Jenderal ini pernah diungkapkan Gus Dur seusai sebuah konferensi pers. Yakni Gus Dur dipapah memasuki mobil dan para wartawan tidak lagi mengerubutinya. Sebelum Menutup pintu mobilnya, sambil setengah berbisik Gus Dur kembali memanggil para wartawan, "Hei, saya masih punya satu informasi lagi. Kalian mau tidak ?" "Apa itu Gus ?" tanya para wartawan sembari serentak mengerubuiti Gusdur Kembali di pintu mobilnya yang masih setengah terbuka. "Saya mau sebutkan nama seorang Jenderal yang paling berbahaya dan berpotensi mematikan siapa saja...

Latar Belakang Presiden Gus Dur

Prof Dr Mahfud MD diminta Presiden Gus Dur untuk menjabat Menteri Pertahanan, tapi ia menolak karena merasa tidak punya latar belakang di bidang itu. “Saya ini tidak punya latar belakang di bidang pertahanan. Latar belakang saya kan hukum tata negara,” kata Mahfud. Gus Dur menjawab, ”Kalau masalah gitu ga perlu latar belakang. Saya aja ga punya latar belakang presiden, tapi bisa jadi presiden.” Mahfud tidak bisa menjawab. (nam)  sumber:  http://www.nu.or.id/

Gus Dur Berbagi Amplop

Usai memberikan ceramah di suatu acara pengajian, Gus Dur dihampiri banyak orang yang ingin bersalaman dengannya. Seperti kiai pada umumnya, masyarakat memberikan amplop berisi uang kepada Gus Dur, atau kita kenal dengan salaman templek, pada saat bersalaman. Ini sebagai satu bentuk penghormatan. Isi amplopnya bisa beragam, sesuai kadar kemampuan ekonomi si pengamplop. Setelah acara, Gus Dur berkumpul dengan teman-temannya. Amplop yang diterimanya tidak diambil semua untuk pribadinya. Beberapa amplop yang diterima dibagikan kepada tema-temannya yang adalah para kader dan pengawal yang setia mendampingi Gus Dur kemana-mana. Nah, karena Gus Dur baik hati, amplop yang berisi tebal justru dikasihkan kepada teman-temannya itu. Teman-temannya berterima kasih kepada Gus Dur, seraya langsung menerima amplop dengan penuh semangat dan berbisik, "Wah Gus Dur ini baik sekali. Amplop yang tebal malah diberikan kepada kita. Alhamdulillah." Nah sekarang tibalah saatnya membuka ampl...

Kata Gus Dur, Sakit Gigi Lebih Sakit dari Sakit Hati

Saat Gus Dur sakit gigi, ia masih bisa bergurai. Kepada seorang pengawalnya ia bergumam, ”Ternyata sakit gigi itu lebih sakit dari sakit hati.” ”Lho kog bisa Gus? Bukannya malah terbalik, sakit hati itu lebih sakit rasanya dibanding sakit gigi?” kata pengawal Gus Dur, mungkin dia mengingat syair lagu dangdut Meggi Z. Tapi Gus Dur langsung menjawab, ”Lha wong sekarang saya sakitnya sakit gigi kog,” katanya. Pengawal Gus Dur itu tak bisa menjawab. (nam) sumber:  http://www.nu.or.id/

Banser VS Tentara AS

Saat berada di sebuah kapal pesiar, presiden Indonesia (Gus Dur, pastinya), presiden AS dan perdana menteri Jepang saling memamerkan keberanian tentara masing-masing. Presiden AS bilang tentaranya bisa mengelilingi kapal 10 kali tanpa berhenti, dan langsung dibuktikan, ternyata benar. Perdana Menteri Jepang malah bilang tentaranya bisa menglilingi kapal selama 25 kali. Ia panggil salah seorang prajurit untuk terjun ke laut berenang mengelilingi kapal 25 kali dan... luar biasa, ternyata ia bisa. Gus Dur hampir-hampir dipermalukan dalam perdebatan itu. Prajurit AS dan Jepang benar-benar pemberani. Untung Gus Dur segera punya ide. Dipangilnya seorang angota Banser NU yang kebetulan diajak. "Ini bapak-bapak, dia seorang anggota Banser NU. Dia bukan tentara, dan tidak pernah mengikuti latihan militer resmi. Dia akan saya suruh berenang 100 kali," kata Gus Dur sambil menepuk-nepuk pundak anggota Banser. Presiden AS dan perdana menteri Jepang melongo. "Ayo sekarang ka...